Satu sangkar dari besi
Rantai kasar pada hati
Tidak berubah rajawali
Menjadi burung nuri
Rajawali........ Rajawali........
Satu luka perasaan
Maki, puji dan hinaan
Tidak berubah sang jagoan
Menjadi makhluk picisan
Rajawali........ Rajawali........
Burung sakti di angkasa
Lambang jiwa yang merdeka
Membela kaum yang papa
Menggugah jiwa lara
Rajawali........ Rajawali........
Jiwa anggun teman sepi
bagaikan pasti diri
Sejati.....
bertahan badai godaan, prahara atau topan
Keberanian.....
Setia kepada bumi
Setia pada janji
Kegagahan......
Menembus kabut malam
Menguak cadar fajar
Berjanji matahari
Memberi inspirasi
Mengenai Saya
- nusantaraqurani
- Palembang, Sumsel, Indonesia
- Alumnus S1 Teknik Sipil Unsri, bekerja sebagai Konsultan SDM, Lingkungan dan Rekayasa di Palembang.
Senin, 03 Desember 2012
Kamis, 03 September 2009
Surat Untuk Tuhan
Tuhan, terimakasih atas keindahan dan air mata
Terimakasih atas ketegaran dalam kesusahan
Biarkan aku tegak berjalan di dalam peluh dan kesakitan
Buatlah aku menjadi terang yang selalu bersinar dalam kegelapan
Tuhan, aku tahu tak ada kesulitan yang tak terselesaikan
Berjuta onak dan duri yang menghempas, menghantam
Semoga menambah kekuatan dan keteguhan
Biarkan aku bergumul dengan perih dan pedih
Tuhan, bimbing setiap langkah yang kulalui dalam tanganMu
Rengkuh aku beserta segala keinginanku dalam jalanMu
Sebab hanya Kau yang mengetahui semua apa yang ada dalam diri
Bantu aku untuk bijak membedakan keinginan yang baik dan buruk
Tuhan, hilangkan segala kesombongan, sikap pongah dan egoisku
Buatlah aku hidup dalam damai tanpa harus saling menyakiti satu sama lain
Biarkan semua mengalir apa adanya
Dalam tanganMu aku merebahkan diri ini
KehendakMu yang jadi atas keseluruhan diriku.
(By : Zev)
Terimakasih atas ketegaran dalam kesusahan
Biarkan aku tegak berjalan di dalam peluh dan kesakitan
Buatlah aku menjadi terang yang selalu bersinar dalam kegelapan
Tuhan, aku tahu tak ada kesulitan yang tak terselesaikan
Berjuta onak dan duri yang menghempas, menghantam
Semoga menambah kekuatan dan keteguhan
Biarkan aku bergumul dengan perih dan pedih
Tuhan, bimbing setiap langkah yang kulalui dalam tanganMu
Rengkuh aku beserta segala keinginanku dalam jalanMu
Sebab hanya Kau yang mengetahui semua apa yang ada dalam diri
Bantu aku untuk bijak membedakan keinginan yang baik dan buruk
Tuhan, hilangkan segala kesombongan, sikap pongah dan egoisku
Buatlah aku hidup dalam damai tanpa harus saling menyakiti satu sama lain
Biarkan semua mengalir apa adanya
Dalam tanganMu aku merebahkan diri ini
KehendakMu yang jadi atas keseluruhan diriku.
(By : Zev)
Jumat, 21 Agustus 2009
Mbok, asah dulu kampakmu…
Mbok, asah dulu kampakmu…
“Pak, saya mau mengundurkan diri. Saya malu. Saya sudah bekerja sangat keras. Saya sudah lembur. Saya sudah mati-matian. Namun hasilnya bukan membaik, malah terus menurun. Saya malu… pak!”, demikian ucapan tertunduk seorang penebang pohon kepada pimpinan yang bijaksana.
Suasana makin hening, karena bukan jawaban kalimat yang terdengar namun malahan bunyi “sruuut” seruput teh panas dihirup nikmat, yang dilanjutkan kelegaan: “Aaah…” yang membuat si penebang pohon makin tertunduk malu…
Sang pimpinan berdiri perlahan dan dengan tangan kanan yang lembut menepuk bahu kiri si penebang pohon, membuat suasana makin hening dan trance tegang. Mata penebang pohonpun berkedip-kedip makin trance bingung menunggu bunyi kalimat jawaban pimpinannya. Namun, tetap trance heniiing…
Akhirnya suasana senyap terinterupsi dengan kalimat lembut: “Kapan terakhir kali kamu mengasah kampakmu?”
Dengan tergagap penebang pohon menjawab terputus-putus: “Man… mana… sempat, pak! Saya bekerja siang malam agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Man.. mana ada waktu untuk mengasah kam… kampakku itu”
Eh, malah terdengar suara tertawa bijaksana khas Mbah Surip: “Ha ha ha ha… itulah masalahnya. Kamu lupa mengasah kampakmu. Mana bisa kamu menebang pohon lebih banyak dengan kampak yang tumpul, bukan?”. Bunyi tawapun terulang lagi: “Ha ha ha ha…”
Hai sobatku, hai saudaraku, hai temanku… Kadang sepertinya kita tidak punya waktu untuk diri sendiri. Kita tidak sempat untuk sediakan waktu untuk bicara dengan diri sendiri. Kita tidak mau buang waktu untuk diam. Kita sibuk diluar diri, takut masuk kedalam diri. Karena takut saja…
Nah, marilah. Sekali lagi, marilah ambil jedah sejenak untuk evaluasi perjalanan kita saat ini, sekarang biarkan kepala Anda dalam posisi…
Tengok ke Bawah
(Bacalah kalimat berikut di bawah ini dengan sangat perlahan, sangat sangat perlahan)
Kapan terakhir kali Anda mengasah kampak Anda?
Kapan terakhir kali Anda tertawa lepas terbahak-bahak?
Kapan terakhir kali Anda retret dari kesibukan sehari-hari?
Kapan terakhir kali Anda berdiam diri, hanya bicara dengan diri Anda sendiri?
Kapan terakhir kali Anda mengevaluasi perjalanan hidup Anda?
Kapan terakhir kali Anda bertekuk sujud dan menangis di kaki DIA?
Kapan terakhir kali Anda masuk ke dalam diri Anda yang paling dalam?
Kapan terakhir kali Anda bertanya siapa aku ini?
Kapan terakhir kali Anda bertanya ada dimana aku saat ini?
Kapan terakhir kali Anda bertanya mau kemana hidupku ini?
Kapan terakhir kali Anda dimana akhir cerita hidup ini?
(Sekarang baik juga putarlah sebuah musik lembut dan dengarkan dengan hati, nikmati dengan jiwa, menyatulah dengan musik yang Anda pilih, tanpa harus menjawab pertanyaan di atas. Biarkan larut dengan musik)
Selesai mengevaluasi dimana perjalanan kita saat ini, barulah berikutnya kita menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan..
Tengok ke Atas
Melihat tujuan Anda di depan. Melihat cita-cita yang akan diwujudkan. Melihat tanah tujuan, tanah harapan. Melihat impian di ujung jalan. Melihat cahaya terang nun jauh disana.
Agar terbangun kembali semangat, motivasi, tenaga, harapan dan keyakinan bahwa cita-cita masih bisa diwujudkan. Harapan itu masih bisa terlaksana. Harapan itu masih ada.
Tidak apa-apa juga untuk melihat lebih tinggi, melihat lebih jauh, menerawang kejauhan diluar batas ambang visual manusia. Melihat akhir cerita kehidupan. Melihat kabar akhir diri ini. Menuju ke alam semesta yang lebih luas. Menuju ke langit. Langit yang berlapis. Bahkan berlapis sampai tujuh lapis. Sangat tinggi, sangat jauh. Tidak terlihat, tidak terjangkau, hanya diyakini…
Agar saat mata kembali menengok ke bawah, kita mudah untuk memahami bahwa jalan yang sedang diinjak mungkin sudah tepat, mungkin juga salah, mungkin juga keliru, mungkin berlumpur, mungkin hanya kubangan kerbau.
Saat tahu salah, kita mudah untuk berpindah jalan, kita mudah untuk melangkah bangkit. Kita mudah untuk memilah arah dan melanjutkan perjalanan kembali. Sebagai seorang Khalifah. Sebagai seorang Musafir. Sebagai seorang pengelana. Pengelana kehidupan… Dan,
Teruslah sempatkan tengak-tengok
Agar tidak tersesat, agar mudah berpindah arah, agar tetap bersemangat. Teruslah tengak-tengok, walau hanya sejedah tarik nafas, seteguk kopi pahit, sehirup teh panas, seucap Allah Maha Akbar dan menghembuskan nafas dengan syukur dan kembali ikhlas untuk melangkah, melanjutkan perjalanan ini, ke jalan setapak di depan mata. Jalan lurus, jalan panjang, jalan yang mungkin tanpa ujung, jalan kembali. Kembali ke pemilik nafas ini. DIA yang Besar, DIA yang Akbar…
Ah, serahkan saja jawabannya ke dalam diri.
Serahkan saja nafas ini pada Dia pemilik senyum ini.
Serahkan saja nafas ini. Serahkan saja…
Agar kita terus berkarya
Agar kita terus kuat melangkah
Agar kita terus mampu mendaki
Agar kita terus bisa terbang tinggi dan jauh, setinggi dan sejauh yang bisa kita yakini…
God, I love you full…
By : Krishnamurti
“Pak, saya mau mengundurkan diri. Saya malu. Saya sudah bekerja sangat keras. Saya sudah lembur. Saya sudah mati-matian. Namun hasilnya bukan membaik, malah terus menurun. Saya malu… pak!”, demikian ucapan tertunduk seorang penebang pohon kepada pimpinan yang bijaksana.
Suasana makin hening, karena bukan jawaban kalimat yang terdengar namun malahan bunyi “sruuut” seruput teh panas dihirup nikmat, yang dilanjutkan kelegaan: “Aaah…” yang membuat si penebang pohon makin tertunduk malu…
Sang pimpinan berdiri perlahan dan dengan tangan kanan yang lembut menepuk bahu kiri si penebang pohon, membuat suasana makin hening dan trance tegang. Mata penebang pohonpun berkedip-kedip makin trance bingung menunggu bunyi kalimat jawaban pimpinannya. Namun, tetap trance heniiing…
Akhirnya suasana senyap terinterupsi dengan kalimat lembut: “Kapan terakhir kali kamu mengasah kampakmu?”
Dengan tergagap penebang pohon menjawab terputus-putus: “Man… mana… sempat, pak! Saya bekerja siang malam agar dapat memperoleh hasil yang maksimal. Man.. mana ada waktu untuk mengasah kam… kampakku itu”
Eh, malah terdengar suara tertawa bijaksana khas Mbah Surip: “Ha ha ha ha… itulah masalahnya. Kamu lupa mengasah kampakmu. Mana bisa kamu menebang pohon lebih banyak dengan kampak yang tumpul, bukan?”. Bunyi tawapun terulang lagi: “Ha ha ha ha…”
Hai sobatku, hai saudaraku, hai temanku… Kadang sepertinya kita tidak punya waktu untuk diri sendiri. Kita tidak sempat untuk sediakan waktu untuk bicara dengan diri sendiri. Kita tidak mau buang waktu untuk diam. Kita sibuk diluar diri, takut masuk kedalam diri. Karena takut saja…
Nah, marilah. Sekali lagi, marilah ambil jedah sejenak untuk evaluasi perjalanan kita saat ini, sekarang biarkan kepala Anda dalam posisi…
Tengok ke Bawah
(Bacalah kalimat berikut di bawah ini dengan sangat perlahan, sangat sangat perlahan)
Kapan terakhir kali Anda mengasah kampak Anda?
Kapan terakhir kali Anda tertawa lepas terbahak-bahak?
Kapan terakhir kali Anda retret dari kesibukan sehari-hari?
Kapan terakhir kali Anda berdiam diri, hanya bicara dengan diri Anda sendiri?
Kapan terakhir kali Anda mengevaluasi perjalanan hidup Anda?
Kapan terakhir kali Anda bertekuk sujud dan menangis di kaki DIA?
Kapan terakhir kali Anda masuk ke dalam diri Anda yang paling dalam?
Kapan terakhir kali Anda bertanya siapa aku ini?
Kapan terakhir kali Anda bertanya ada dimana aku saat ini?
Kapan terakhir kali Anda bertanya mau kemana hidupku ini?
Kapan terakhir kali Anda dimana akhir cerita hidup ini?
(Sekarang baik juga putarlah sebuah musik lembut dan dengarkan dengan hati, nikmati dengan jiwa, menyatulah dengan musik yang Anda pilih, tanpa harus menjawab pertanyaan di atas. Biarkan larut dengan musik)
Selesai mengevaluasi dimana perjalanan kita saat ini, barulah berikutnya kita menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan..
Tengok ke Atas
Melihat tujuan Anda di depan. Melihat cita-cita yang akan diwujudkan. Melihat tanah tujuan, tanah harapan. Melihat impian di ujung jalan. Melihat cahaya terang nun jauh disana.
Agar terbangun kembali semangat, motivasi, tenaga, harapan dan keyakinan bahwa cita-cita masih bisa diwujudkan. Harapan itu masih bisa terlaksana. Harapan itu masih ada.
Tidak apa-apa juga untuk melihat lebih tinggi, melihat lebih jauh, menerawang kejauhan diluar batas ambang visual manusia. Melihat akhir cerita kehidupan. Melihat kabar akhir diri ini. Menuju ke alam semesta yang lebih luas. Menuju ke langit. Langit yang berlapis. Bahkan berlapis sampai tujuh lapis. Sangat tinggi, sangat jauh. Tidak terlihat, tidak terjangkau, hanya diyakini…
Agar saat mata kembali menengok ke bawah, kita mudah untuk memahami bahwa jalan yang sedang diinjak mungkin sudah tepat, mungkin juga salah, mungkin juga keliru, mungkin berlumpur, mungkin hanya kubangan kerbau.
Saat tahu salah, kita mudah untuk berpindah jalan, kita mudah untuk melangkah bangkit. Kita mudah untuk memilah arah dan melanjutkan perjalanan kembali. Sebagai seorang Khalifah. Sebagai seorang Musafir. Sebagai seorang pengelana. Pengelana kehidupan… Dan,
Teruslah sempatkan tengak-tengok
Agar tidak tersesat, agar mudah berpindah arah, agar tetap bersemangat. Teruslah tengak-tengok, walau hanya sejedah tarik nafas, seteguk kopi pahit, sehirup teh panas, seucap Allah Maha Akbar dan menghembuskan nafas dengan syukur dan kembali ikhlas untuk melangkah, melanjutkan perjalanan ini, ke jalan setapak di depan mata. Jalan lurus, jalan panjang, jalan yang mungkin tanpa ujung, jalan kembali. Kembali ke pemilik nafas ini. DIA yang Besar, DIA yang Akbar…
Ah, serahkan saja jawabannya ke dalam diri.
Serahkan saja nafas ini pada Dia pemilik senyum ini.
Serahkan saja nafas ini. Serahkan saja…
Agar kita terus berkarya
Agar kita terus kuat melangkah
Agar kita terus mampu mendaki
Agar kita terus bisa terbang tinggi dan jauh, setinggi dan sejauh yang bisa kita yakini…
God, I love you full…
By : Krishnamurti
Minggu, 09 Agustus 2009
Nusantara Berduka


Innalillahi wa inailaihi roji'un...
Satu lagi putra terbaik bangsa berpulang...
Selamat jalan Mas Willy....
Selamat jalan Mbah Surip...
Selamat jalan anjing liar dari Jogjakarta.. .
Tak perlu kutangisi kepergianmu,
kulepas kamu dengan senyum...
ternyata Tuhan sudah sangat merindukanmu. ...
Selamat Jalan Mas Willy....
Selamat Jalan Mbah Surip....
"I Love U Full..."
"Perjuangan adalah Pelaksanaan kata-kata..."
Pesan kalian yang akan selalu kami cam.
(nusantaraqurani)
Satu lagi putra terbaik bangsa berpulang...
Selamat jalan Mas Willy....
Selamat jalan Mbah Surip...
Selamat jalan anjing liar dari Jogjakarta.. .
Tak perlu kutangisi kepergianmu,
kulepas kamu dengan senyum...
ternyata Tuhan sudah sangat merindukanmu. ...
Selamat Jalan Mas Willy....
Selamat Jalan Mbah Surip....
"I Love U Full..."
"Perjuangan adalah Pelaksanaan kata-kata..."
Pesan kalian yang akan selalu kami cam.
(nusantaraqurani)
Sabtu, 08 Agustus 2009
Puisi Terakhir WS Rendra


Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga
Jumat, 22 Mei 2009
GAYA HIDUP MUKMIN YANG MENAKJUBKAN
Ketahuilah, bahwa gaya hidup orang yang beriman dan beramal shalih adalah solusi hidup yang tercanggih dalam mengatasi permasalahan yang terjadi dalam kehidupan dewasa ini. Bagaimana tidak, siapapun yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, syarat utamanya adalah harus beriman kepada Allah dan beramal shalih. Sementara orang kafir yang tidak mengimani Allah dan tidak beramal shalih, sekali-kali tidak akan menemukan kehidupan yang lebih baik, kendati dia dapat bersuka-cita dan bersenang-senang dalam menikmati hidupnya.
Bagi diri seorang mukmin, jika Allah menjadikan mereka kaya, ia menjadi orang yang bahagia karena hartanya dapat dinafkahkan untuk mencari keridhaan-Nya dan untuk beribadah kepada-Nya. Dengan harta itu, dia dapat memenuhi apa yang menjadi hak-haknya dan mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya.
Sebaliknya, jika dia miskin, kemiskinannya itu tak mencegahnya untuk tetap beribadah kepada Allah. Ia memuji Allah atas harta yang dihindarkan daripadanya. Sebab, bisa jadi harta itu dapat memperosokkan keimanannya. Lalu dia bersabar, merasa cukup, dan ridha dengan bagian yang sedikit.
Jika badannya sehat dan tubuhnya kuat, dia jadikan kesehatan dan kekuatan itu untuk berserah diri dan beribadah kepada-Nya. Dia menjalankan ketaatan dalam memperbaiki amal ibadahnya serta mengumpulkan kebaikan-kebaikan untuk bekal pada hari perhitungan kelak. Ia mempunyai kebahagiaan seolah-olah dia memiliki dunia dan seluruh isinya.
Jika sakit, dia bersabar dan mengharapkan balasan dari Allah. Sakitnya menjadi penghapus kesalahan, pencuci dosa, dan pembersih keburukan-keburukannya.
Rabu, 29 April 2009
Sholat Kebiasaan atau Kebiasaan Sholat (2)
Sholat adalah refleksi Iman Islam
Orang beriman yang Islam tentu sholat
Orang yang ngaku beriman tapi ngga sholat berarti bukan Islam
Semakin beriman, semakin banyak sholat,
Hanya sholat wajib, berarti berpuas dengan keimanan sekarang dan enggan meningkatkan keimanan.
Merasa tinggi keimanan tapi sholat dikit, berarti tertipu
Orang tidak beriman dipaksa sholat, sama dengan memaksa orang berbohong
Orang sholat karena takut/pamrih manusia lain, belum mengenal Allah
Orang sholat karena diperintahkan Allah berarti orang yang tunduk
Orang sholat karena takut dosa berarti orang yang percaya kepada azab neraka dan hari akhir.
Orang sholat karena pahala berarti orang yang yakin akan kenikmatan surga dan percaya kepada hari akhir.
Orang sholat karena pamrih kepada Allah, orang yang tahu menempatkan diri
Orang sholat karena digerakkan, orang yang didekatkan
Orang sholat karena rindu dan bahagia, orang yang mengenal cinta
By : Wahyu
Orang beriman yang Islam tentu sholat
Orang yang ngaku beriman tapi ngga sholat berarti bukan Islam
Semakin beriman, semakin banyak sholat,
Hanya sholat wajib, berarti berpuas dengan keimanan sekarang dan enggan meningkatkan keimanan.
Merasa tinggi keimanan tapi sholat dikit, berarti tertipu
Orang tidak beriman dipaksa sholat, sama dengan memaksa orang berbohong
Orang sholat karena takut/pamrih manusia lain, belum mengenal Allah
Orang sholat karena diperintahkan Allah berarti orang yang tunduk
Orang sholat karena takut dosa berarti orang yang percaya kepada azab neraka dan hari akhir.
Orang sholat karena pahala berarti orang yang yakin akan kenikmatan surga dan percaya kepada hari akhir.
Orang sholat karena pamrih kepada Allah, orang yang tahu menempatkan diri
Orang sholat karena digerakkan, orang yang didekatkan
Orang sholat karena rindu dan bahagia, orang yang mengenal cinta
By : Wahyu
Minggu, 26 April 2009
Sholat Kebiasaan atau Kebiasaan Sholat
Sesuatu yang dikerjakan/dilakukan secara terus menerus akan membawa efek kelembaman sikap terhadap pekerjaan tersebut. Atau kecenderungan sehingga jika suatu saat dia tidak melakukannya, akan menjadi beban dalam hati dan pikirannya. Makanya untuk banyak kegiatan yang positif dan bermanfaat kita dianjurkan melakukannya berulang-ulang supaya menjadi kebiasaan. Begitu juga kebalikannya kalau kita tidak terbiasa melakukannya maka rasanya juga menjadi beban kalau kita disuruh melakukannya.
Tapi dalam hal melakukan sholat, disamping diharapkan menjadi kebiasaan, ada hal lain yang harus ditambahkan agar sholat yang dilakukannya menjadi bermakna. Yaitu "pemahaman" mengenai mengapa kita harus melakukan shalat dan "kesadaran" tentang proses shalat itu sendiri. Sadar ... itulah mengapa orang yang sedang tidak sadar, mabuk ataupun tidur shalatnya tidak sah. Tapi sadar sendiri lebih dari sekedar tidak mabuk atau tidak tidur. Sadar juga terjadi karena adanya dorongan dari dalam hati untuk mau melakukannya ... makanya ada tahapan membaca niat, walaupun dalam hati ... Tapi jelas bahwa dalam melakukan shalat, seseorang harus dalam kondisi sadar penuh. Dan sadar dalam proses sholatnya sendiri yakni dengan keyakinan bahwa kita sedang berhadapan dan berkomunikasi yang Yang Maha Kuasa.
Tapi dalam hal melakukan sholat, disamping diharapkan menjadi kebiasaan, ada hal lain yang harus ditambahkan agar sholat yang dilakukannya menjadi bermakna. Yaitu "pemahaman" mengenai mengapa kita harus melakukan shalat dan "kesadaran" tentang proses shalat itu sendiri. Sadar ... itulah mengapa orang yang sedang tidak sadar, mabuk ataupun tidur shalatnya tidak sah. Tapi sadar sendiri lebih dari sekedar tidak mabuk atau tidak tidur. Sadar juga terjadi karena adanya dorongan dari dalam hati untuk mau melakukannya ... makanya ada tahapan membaca niat, walaupun dalam hati ... Tapi jelas bahwa dalam melakukan shalat, seseorang harus dalam kondisi sadar penuh. Dan sadar dalam proses sholatnya sendiri yakni dengan keyakinan bahwa kita sedang berhadapan dan berkomunikasi yang Yang Maha Kuasa.
(By : Nuzkan)
Rabu, 01 April 2009
5 Hal Yang Melejitkan Orang-Orang (biasa) Menjadi Sukses
Kenapa keberhasilan tampak begitu mudah menghampiri orang lain dan tidak pada diri anda? Kenapa orang lain tampak begitu gampang mendapat apapun yang diinginkannya, sedang anda sekalipun merasa sudah berusaha SANGAT keras, bahkan mungkin jungkir balik ke sana kemari namun yang didapat hanya secuil.
Apa benar itu karena takdir? Apa mungkin mereka lebih beruntung dari anda?
Tentang orang-orang yang berhasil, dari pengamatan saya, mereka memiliki beberapa kesamaan:
Apa benar itu karena takdir? Apa mungkin mereka lebih beruntung dari anda?
Tentang orang-orang yang berhasil, dari pengamatan saya, mereka memiliki beberapa kesamaan:
1. Mencintai yang dilakukan.
Orang-orang sukses biasanya berhasil di bidang yang dicintainya. Karena senang dengan yang dilakukannya, mereka akan menjalaninya dengan riang gembira. Tanpa ada paksaan. Itulah kenapa misalnya seorang seperti Ahmadun Yosi Herfanda dan Jonru bisa menjadi penyair dan penulis hebat. Karena mereka mencintai yang dilakukannya.Lakukan apa yang anda cintai. Makin anda lakukan, makin bersemangat dan nikmat menjalaninya.
2. Berorientasi pada tujuan.
Orang-orang sukses selalu berorientasi pada tujuan. Tahu mengapa harus melakukan sesuatu. Dan memfokuskan usahanya untuk mencapai tujuan itu. Ketahui dimana anda sekarang dan kemana akan melangkah, dan tahu bagaimana cara mencapainya. Selanjutnya just ACTION!
3. Berkumpul di lingkungan orang sukses.
Nasihat lama mengatakan kalau ingin harum berkumpullah dengan penjual minyak wangi. Berkumpul di lingkungan yang sesuai, bisa mendorong anda mencapai apa yang anda inginkan.
4. Percaya diri.
Orang-orang sukses memiliki kepercayaan diri. Tanpa ragu mereka akan mengatakan kepada orang di sekelilngnya mengenai tujuan-tujuannya. Mereka mengatakan apa saja yang akan mereka lakukan dan hasilkan.Jangan ragu, percayalah pada diri anda. Anda bisa!
5. Bekerja keras dan cerdas.
Sekalipun berbisnis internet yang tiap harinya hanya menghadap komputer, namun jangan dikira kita tak perlu kerja keras dan cerdas. Tanpa bermaksud apa-apa, sekalipun saya bisa saja tak bekerja apapun sepanjang waktu, namun tiap harinya saya tetap mengalokasikan waktu bekerja. Sekalipun ada beberapa karyawan yang membantu, saya tetap ACTION. Saya tak keberatan bangun tengah malam sekalipun untuk mengecek email, blog, dan situs web.Ya karena saya menyukainya. Saya mencintai apa yang saya lakukan. Saya cinta internet marketing.
Keberhasilan, kesuksesan atau apapun namanya adalah sebuah proses. Proses yang tak datang hanya dengan sekali ucap “simsalabim” maka berubahlah segalanya. Sukses adalah buah dari komitmen dan proses terus menerus untuk mencapai sebuah tujuan. Seperti besi yang ditempa dalam api, sampai akhirnya menjadi pisau atau benda lain yang lebih berguna.
Kesetiaan menjalani proses itulah kuncinya. Meski klise, namun sampai sekarang terus terbukti sangat telak terhadap hasil akhir yang ingin kita capai.
Dalam hidup segala sesuatunya memang tak selalu berjalan sempurna. Namun bukan berarti kita harus terdiam dan menyerah berpangku tangan pada nasib.
Bangkit dan mari ACTION!
Bangkit dan mari ACTION!
Senin, 30 Maret 2009
Analogi Tukang Cukur
Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.
"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,Adakah yang sakit??,Adakah anak terlantar??Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar(mlungker-mlungker-istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,"Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."
Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".
"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si konsumen."Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur."
Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.
"Cocok!" kata si konsumen menyetujui.
"Itulah point utama-nya!.
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !Tapi apa yang terjadi...
orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.
"Si tukang cukur terbengong !!!
(Thank to Mas Eko)
Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.
"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,Adakah yang sakit??,Adakah anak terlantar??Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar(mlungker-mlungker-istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,"Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."
Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".
"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si konsumen."Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur."
Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.
"Cocok!" kata si konsumen menyetujui.
"Itulah point utama-nya!.
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !Tapi apa yang terjadi...
orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.
"Si tukang cukur terbengong !!!
(Thank to Mas Eko)
Sabtu, 21 Maret 2009
Wanna be Fresh n Be Natural
Setelah sekian lama gak kirim2 postingan kangen juga rasanya gak nulis atau ngedit artikel. Sebagai pemanasan biar otak ngak jadi buntu2 amat. Setelah 15 hari PBL ke Bali dan terus mengurusi kegiatan akademik mahasiswa pengen rasanya rehat sebentar keluar dari rutinitas perkuliahan. Mungkin ide menarik dengan cara kumpul seharian n bercanda ngalor ngidul dengan keluarga atau rekreasi ketempat2 yang menarik.
Kamis, 29 Januari 2009
Ditilang Polisi , dan Polisi itu temenku
Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.
Prit!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.Hati Jono agak lega.Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
"Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!"
"Hai, Jon." Tanpa senyum.
"Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.
Istri saya sedang menunggu di rumah."
"Oh ya?"Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.
"Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong."
"Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.
"Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.
"Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah..
Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.
"Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan."
Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu."
Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.
Dibukanya kaca jendela itu sedikit.Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota.
Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.
"Halo Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)".
Jono terhenyak.. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan... .
....Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.
Drive Safely Guys..
Tak Ada Yang Tak Mungkin Bila Allah Menghendaki
Hidup adalah kesempatan dan anugrah dari Yang Maha Kuasa. Perjalanan hidup adalah bagian dari kehidupan yang harus dihadapi oleh setiap manusia. Begitu juga kekayaan adalah hak setiap insan yang harus dimiliki sebagai anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Tak ada yang tak mungkin bila Allah menghendaki.
Sabtu, 24 Januari 2009
Ayah dan Peci
Mohammad Sobary
Manusia bukan gunung. Ini pepatah Rusia yang saya dengar dalam film The Gulag Archipelago. Artinya, manusia bisa berubah. Begitu juga Ayah. Saya hidup dalam dunia kecil yang ruwet. Desa saya desa Muhammadiyah. Pengajian saya pun, di sore hari maka, jadilah saya anak Muhammadiyah. Ayah lain lagi. Ia sudah ada sebelum datang ke desa kami unsur pembaru itu. Ia abangan. Apa boleh buat. Abangan? Ia memang tak mendefinisikan diri begitu. Maka, baiknya diperjelas: ia tak salat lima waktu. Tapi ia pernah bertapa, seperti dilakukan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad sebelum masa kenabiannya. Ayah juga mengajar saya berhenti makan sebelum terlalu kenyang seperti teladan Kanjeng Rasul. Dan ia pun doyan tirakat, seperti riadloh teman-teman NU di pesantren: makan Cuma umbi umbian, cegah daging, cegah garam. Dan melek malam.Wisdom-nya: jangan sebut keburukan orang. Lupakan kebaikanmu sendiri. Baginya, agama itu hidup. Kalau kita sudah mengerti makna hidup, baru kita paham apa itu agama.
Ketika saya masih sembilan tahunan ia pernah menegur, "Untuk apa kamu jengkang-jengking (salat)? Tahu apa kamu?" Saya sedih. Diluar rumah, tahun 1960-an itu, teman-teman yang lebih dewasa bicara ideologi. Juga soal jihad, perang sabil, dan keluhuran agama. Tapi tiap lagu Genjer Genjer dinyanyikan sebelum dan sesudah pertunjukan ketoprak, terasa di sana bagaimana pihak "musuh" meremehkan agama. Ada bahkan ketoprak dengan lakon: Patine Gusti Allah (Kematian Tuhan).Di tengah kemiskinan yang mencekam, bicara tentang ideology dan tentang kawan dan lawan memang terasa seperti jalan keluar yang baik. Ideologi membuat lupa bahwa sebetulnya kita lapar, dan bahwa kita tak mampu beli beras. Beras ibarat semahal emas. Kami makan bubur. Mungkin lebih tepat minum, sebab terlalu encer. Itu pun kadang kurang. Sering Ayah menahan diri dan tak makan. Hampir tiap malam Ibu tidur di lantai, di depan pintu, tanda prihatin. Menjelang tidur, Simbah selalu bicara tentang zaman normal, zaman lampau yang lebih baik, ketika Ayah masih anak-anak. Simbah, Ayah, dan Ibu percaya zaman susah itu akan berakhir segera setelah datang Ratu Adil suatu hari nanti.Saya tidak tahu Ratu Adil. Yang saya ketahui ialah bahwa saya takut. Sikap mereka, bicara setengah berbisik, bercerita setengah berharap, buat saya terasa seolah isyarat akan datangnya sesuatu yang lebih gawat.
Goro-goro, menurut orang Jawa, pertanda akan datangnya perubahan alam serta zaman. Dalam dunia wayang, setelah goro-goro di tengah malam itu, keluar Petruk, Semar, Gareng, Bagong: simbolisasi rakyat. Mereka mengawal, dan juga gigih membantu, satria utama menegakkan kebenaran.Gerakan 30 September PKI yang bikin bumi kita gonjang-ganjing, barangkali juga goro-goro itu. Pemerintahan diganti sesudahnya. Tatanan politik diubah. Pancasila dan UUD 45 dikedepankan. Partai politik dibuat sederhana. Dan kehidupan agama lebih semarak. Terbukti, ketakwaan kepada Tuhan jadi salah satu syarat pengangkatan seorang menteri.Rapat-rapat raksasa dan ganyang ini ganyang itu harus juga menjadi jiwa dan semangat rakyat di zaman Orla dulu, tetapi deru "mesin" pembangunan Orba menggantikannya. Kurang lebih jargonnya berbunyi: partai/ideologi politik mengakibatkan perpecahan, pembangunan menghasilkan beras. Kongkret sekali.Keadilan sosial belum tercapai tak menjadi soal karena pembangunan belum selesai. Maka, rakyat harus membantu para "satria" mendorong roda pembangunan.
Tiap suasana kritis, rakyat diminta mengetatkan sabuk. Ini demi pembangunan. Betul jihad itu bukan melulu berarti kibasan pedang dalam luapan rasa marah. Tapi kata itu telanjur tidak cocok buat alam pembangunan.Petugas KB malah diberi hak "mengintip" kamar tidur tiap pasangan suami-stri agar mereka tak terlalu banyak bersanggama. Alasannya pun jelas: lebih baik energi itu buat pembangunan.Wajah Indonesia berubah cepat. Di sana-sini yang tampak Cuma pembangunan dan pembangunan. Begitu juga wajah desa saya. Muhammadiyah makin gaya. Pembinaan umat meluas. Dan Ayah kini sembahyang. Kesana kemari bersafari dan berpici. Seolah takut bahwa tanpa pici lalu bukan Islam."Saya senang Ayah jadi santri," saya kasih komentar. "Dari dulu, sebetulnya Ayah juga Islam," sahutnya. "Hanya dulu itu belum 'nglakoni' (menjalankan)." Dari dulu Islam? Saya tak mengerti. Dalam benak saya terpola rumusan Clifford Geertz: yang salat itu santri, yang tidak berarti abangan. "Tidak begitu," kata Bambang Pranowo dalam disertasi doktornya di Universitas Monash Australia itu. "Keislaman bukan state of being. Ia state of becoming.Dikotomi santri abangan itu tidak tepat."
"Sekarang Ayah salat," Ayah menjelaskan, "tapi tetap seperti dulu: tak suka ideologi karena bikin ricuh, mengganggu stabilitas nasional," katanya lagi, persis pejabat, atau Pak Kades dalam film Si Unyil.Pendeknya, fenomena Ayah sembahyang pun ada kaitan dengan pembangunan. Maka, malam itu saya pun salat habis-habisan.Saya cuma berdoa, semoga Ayah diangkat jadi menteri ...
Manusia bukan gunung. Ini pepatah Rusia yang saya dengar dalam film The Gulag Archipelago. Artinya, manusia bisa berubah. Begitu juga Ayah. Saya hidup dalam dunia kecil yang ruwet. Desa saya desa Muhammadiyah. Pengajian saya pun, di sore hari maka, jadilah saya anak Muhammadiyah. Ayah lain lagi. Ia sudah ada sebelum datang ke desa kami unsur pembaru itu. Ia abangan. Apa boleh buat. Abangan? Ia memang tak mendefinisikan diri begitu. Maka, baiknya diperjelas: ia tak salat lima waktu. Tapi ia pernah bertapa, seperti dilakukan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad sebelum masa kenabiannya. Ayah juga mengajar saya berhenti makan sebelum terlalu kenyang seperti teladan Kanjeng Rasul. Dan ia pun doyan tirakat, seperti riadloh teman-teman NU di pesantren: makan Cuma umbi umbian, cegah daging, cegah garam. Dan melek malam.Wisdom-nya: jangan sebut keburukan orang. Lupakan kebaikanmu sendiri. Baginya, agama itu hidup. Kalau kita sudah mengerti makna hidup, baru kita paham apa itu agama.
Ketika saya masih sembilan tahunan ia pernah menegur, "Untuk apa kamu jengkang-jengking (salat)? Tahu apa kamu?" Saya sedih. Diluar rumah, tahun 1960-an itu, teman-teman yang lebih dewasa bicara ideologi. Juga soal jihad, perang sabil, dan keluhuran agama. Tapi tiap lagu Genjer Genjer dinyanyikan sebelum dan sesudah pertunjukan ketoprak, terasa di sana bagaimana pihak "musuh" meremehkan agama. Ada bahkan ketoprak dengan lakon: Patine Gusti Allah (Kematian Tuhan).Di tengah kemiskinan yang mencekam, bicara tentang ideology dan tentang kawan dan lawan memang terasa seperti jalan keluar yang baik. Ideologi membuat lupa bahwa sebetulnya kita lapar, dan bahwa kita tak mampu beli beras. Beras ibarat semahal emas. Kami makan bubur. Mungkin lebih tepat minum, sebab terlalu encer. Itu pun kadang kurang. Sering Ayah menahan diri dan tak makan. Hampir tiap malam Ibu tidur di lantai, di depan pintu, tanda prihatin. Menjelang tidur, Simbah selalu bicara tentang zaman normal, zaman lampau yang lebih baik, ketika Ayah masih anak-anak. Simbah, Ayah, dan Ibu percaya zaman susah itu akan berakhir segera setelah datang Ratu Adil suatu hari nanti.Saya tidak tahu Ratu Adil. Yang saya ketahui ialah bahwa saya takut. Sikap mereka, bicara setengah berbisik, bercerita setengah berharap, buat saya terasa seolah isyarat akan datangnya sesuatu yang lebih gawat.
Goro-goro, menurut orang Jawa, pertanda akan datangnya perubahan alam serta zaman. Dalam dunia wayang, setelah goro-goro di tengah malam itu, keluar Petruk, Semar, Gareng, Bagong: simbolisasi rakyat. Mereka mengawal, dan juga gigih membantu, satria utama menegakkan kebenaran.Gerakan 30 September PKI yang bikin bumi kita gonjang-ganjing, barangkali juga goro-goro itu. Pemerintahan diganti sesudahnya. Tatanan politik diubah. Pancasila dan UUD 45 dikedepankan. Partai politik dibuat sederhana. Dan kehidupan agama lebih semarak. Terbukti, ketakwaan kepada Tuhan jadi salah satu syarat pengangkatan seorang menteri.Rapat-rapat raksasa dan ganyang ini ganyang itu harus juga menjadi jiwa dan semangat rakyat di zaman Orla dulu, tetapi deru "mesin" pembangunan Orba menggantikannya. Kurang lebih jargonnya berbunyi: partai/ideologi politik mengakibatkan perpecahan, pembangunan menghasilkan beras. Kongkret sekali.Keadilan sosial belum tercapai tak menjadi soal karena pembangunan belum selesai. Maka, rakyat harus membantu para "satria" mendorong roda pembangunan.
Tiap suasana kritis, rakyat diminta mengetatkan sabuk. Ini demi pembangunan. Betul jihad itu bukan melulu berarti kibasan pedang dalam luapan rasa marah. Tapi kata itu telanjur tidak cocok buat alam pembangunan.Petugas KB malah diberi hak "mengintip" kamar tidur tiap pasangan suami-stri agar mereka tak terlalu banyak bersanggama. Alasannya pun jelas: lebih baik energi itu buat pembangunan.Wajah Indonesia berubah cepat. Di sana-sini yang tampak Cuma pembangunan dan pembangunan. Begitu juga wajah desa saya. Muhammadiyah makin gaya. Pembinaan umat meluas. Dan Ayah kini sembahyang. Kesana kemari bersafari dan berpici. Seolah takut bahwa tanpa pici lalu bukan Islam."Saya senang Ayah jadi santri," saya kasih komentar. "Dari dulu, sebetulnya Ayah juga Islam," sahutnya. "Hanya dulu itu belum 'nglakoni' (menjalankan)." Dari dulu Islam? Saya tak mengerti. Dalam benak saya terpola rumusan Clifford Geertz: yang salat itu santri, yang tidak berarti abangan. "Tidak begitu," kata Bambang Pranowo dalam disertasi doktornya di Universitas Monash Australia itu. "Keislaman bukan state of being. Ia state of becoming.Dikotomi santri abangan itu tidak tepat."
"Sekarang Ayah salat," Ayah menjelaskan, "tapi tetap seperti dulu: tak suka ideologi karena bikin ricuh, mengganggu stabilitas nasional," katanya lagi, persis pejabat, atau Pak Kades dalam film Si Unyil.Pendeknya, fenomena Ayah sembahyang pun ada kaitan dengan pembangunan. Maka, malam itu saya pun salat habis-habisan.Saya cuma berdoa, semoga Ayah diangkat jadi menteri ...
Rabu, 21 Januari 2009
Kelak, Maaf Tak Diperlukan Lagi
mohon dibaca malam takbiran
saat buka puasa terakhir
setelah sebulan berpuasa
atau seusai berzakat fitrah
[secangkir kopi untuk idul fitri]
Untuk hari raya, keterlaluan kalau hanya saya suguhkan secangkir kopi seperti biasanya. Mesti saya kasih gelas yang besar, atau silakan ngejog. Kalau ndak nanti saya dirasani. Kalau toh tak dirasani, dan hanya dibatin saja sebagai seorang bakhil, kikir, 'akik yaman,' ya tugas saya untuk ngrasani diri saya sendiri.Idul Fitri juga kita sebut Hari Raya. Semacam Hari Pesta, atau Yaumul Haflah. Memang salah satu fitrah manusia ialah daerah yang hangat dan daging yang ingin gemuk. Kan dietnya sudah sebulan penuh.Fitrah manusia itu dua sisi mata uang: wadag dan ruh. Ingin benda-benda, tapi juga ingin makna. Kalau makna thok 'kan kecut.Tapi kalau benda thok, kaya thok, nanti jadi panjenenganipun kewan. Berhariraya itu gampang. Tapi beridulfitri susah bukan main!
Berhariraya; mencari benda, menikmati benda, pokoknya yang sifatnya memenuhi wadagiyah, itu gampang. Allah menyediakan alam yang kaya raya, tinggal wasyrabu, asal laa tasrifuu. Kalau ada yang miskin apalagi faqir, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, kita memang pilih zuhud, pilih menjadi zahid, acuh beibeh terhadap segala keduniaan. Kedua, ini yang gawat; ada sistem pengaturan kekayaan Allah yang tidak adil. Jadi kalau ada milyaran manusia di bawah garis kemiskinan, bisa dipastikan bahwa para manajer sejarah ini terdiri dari binatang-binatang yang kerasukan syaithanirrajiim.
Lha, yang susah itu beridulfitri. Besok pagi kita akan sibuk minta maaf. Apa saja sih kesalahan kita? Apa saja dosa kita sebagai pribadi, sebagai pejabat, sebagai seniman, sebagai tukang becak, sebagai bagian dari organisasi sosialitas antar manusia? Mungkinkah kita menginventarisir semua itu, untuk kita ajukan dan mohonkan 'grasi' dari segenap manusia yang kita salahi; agar benar-benar kita peroleh idul fitri?Jangan-jangan kita pernah dengki kepada orang lain; apa benar kita akan akui itu dan menjamin lusa tak kita ulangi lagi? Jangan-jangan kita pernah memperbudak orang lain; kita egois, hanya tahu kepentingan kita, hanya ingat kebutuhan kita sendiri. Jangan-jangan kita terbiasa merampok orang, mem-fetakompli orang lain sebagai 'hostes' belaka, sebagai 'tukang pijat' dari klangenan kita, bahkan menjadi lintah yang menghisap, menyerap, menggerogoti tenaga darah kehidupan orang lain. Apa betul itu semua akan kita insyafi demi memperoleh idul fitri?Untunglah orang-orang di sekitar kita terbiasa hidup dengan pola Nabi Isa: "Kalau pipi kananmu ditempeleng, kasih pipi kirimu!" Nanti makin lama orang makin akan memakai model Nabi Muhammad, yang sudah mengevolusi, sudah mengalamai akmaltu lakum dinakum, sudah menyempurna akidah kekhalifahannya.
Kalau pipi kananmu ditempeleng, jangan kasih pipi kirimu, itu namanya nahiy munkar. Pembebasan. Kenapa?Mungkin anda sudah kebal, sehingga tak bergeming oleh serbu tempelengan di pipi anda. Mungkin anda sudah sakti mandraguna. Berkat fatwa-fatwa para ulama mengenai iman, takwa, dan kesabaran, sehingga anda tak pusing oleh pukulan-pukulan. Tapi kalau kita membiarkan pipi kita ditampar hanya karena kita sudah punya kekebalan 'aji lembu sekilan spiritual'; itu namanya show of force, pamer kekuatan. Kita menunjukkan betapa hebatnya ketabahan kita, dan itu tak mustahil mengandung potensi riya atau takabbur.Membiarkan pipi ditempeleng, berarti membiarkan orang menempeleng. Dan kalau kita membiarkan orang lain membuat salah, itu namanya egoistis. Kita terlalu berkonsentrasi untuk menghimpun 'pahala memaafkan' sambil membiarkan orang lain menumpuk 'dosa menempeleng.' Nggak bener dong!Jadi, tindakan memaafkan itu dilandasi oleh tugas untuk quu anfusikum wa ahlikum naara. Lain soal kalau kita sukar memaafkan disebabkan oleh watak pendendam dalam diri kita. Dalam mekanisme psikologisnya, kecendrungan yang biasanya malah justru mendorong orang 'ngintip' kita dari balik pohon, menunggu kita melanggar lalu lintas. Makin banyak kita melanggar, makin punya kesempatan pula me-nahiy munkar kita.Jadi, ia mengkapitalisir dosa-dosa kita demi akumulasi pahal-pahala dia, untuk credit point dan sogokan. Polisi yang baik ialah berjuang sedemikian rupa sehingga kemungkinan kita berbuat salah ditekan serendah mungkin. Bukan malah dijebak dan di 'makan.' Denga kata lain, kita tidak berburu 'pahala memaafkan.
Yang diusahakan oleh setiap muslim ialah keadaan dimana tak lagi perlu memaafkan, karena memang tak ada kesalahan.Nah, kalau persyaratan-persyaratan maknawi dan proses maaf-memafkan itu sudah lumayan dipenuhi, maka kebangetan-lah kita kalau lantas kita masih juga tak mau memaafkan. Lha, wong Tuhan saja punya banyak nama dan sifat memaafkan: Al Afuw, Al Ghafur dan lain-lain.Pernah ada seorang Sufi yang ditempeleng oleh sedadu gara-gara dia menunjuk kuburan, ketika ditanya: "Dimana tempat ramai di sekitar sini?" Tatkala datang seseorang yang menjelaskan bahwa lelaki itu adalah tokoh spiritual penasehat Sang Khalifah, serdadu itu lantas menyemba-nyembah memohon ampun. Sang Sufi berkata: "Aku sudah memaafkanmu sejak sebelum engkau memukulku."Di dalam Al Qur'an, konsep mengenai negeri yang baik (adil makmur) dipaparkan bersamaan (terkait, kontekstual) dengan rabbun ghafur. Tidak baldatun thayyibatun, thok, tapi pakai 'Allah mengampuni' segala. Memang kitab pamungkas itu diturunkan tidak untuk iseng. Coba, apakah kira-kira Allah mengampuni Amerika Serikat yang terus menerus memveto resolusi yang menyangkut kezaliman Israel atas Palestina. Beranikah anda menjamin bahwa Allah memaafkan histeria individualisme, materialisme dan liberalisme di negeri-negeri makmur yang dewasa ini kita makin mabuk menirunya.Tetapi kita memang punya hobi mengeksploitir watak pengampun Allah. Kita tumpuk dosa setinggi-tingginya karena toh Allah Maha Pengampun. Kita terapkan theology of balance, bikin pelanggaran sebanyak-banyaknya dan bikin pahala untuk mengimbanginya. Kita terlalu ber'jualbeli' secara kampungan dengan Allah. Padahal, sekali lagi, tujuan setiap muslim ialah bagaimana mencapai kepribadian yang tak lagi perlu mohon maaf; justru karena memang sudah tak punya kesalahan dan dosa lagi. Juga terhadap sesama manusia kita semoga akan pernah amat sedikit saja butuh saling memaafkan, karena saking sedikitnya kesalahan yang kita bikin. Insya Allah, filsafat permaafan bukanlah alat 'penghapus dosa' (sehingga dosa perlu dibikin dulu), melainkan metode agar kita tak lagi menyelenggarakan dosa.Cakrawala perjalanan muslim ialah keadaan bebas maaf. Keadaan dimana maaf tak diperlukan, karena relatif tak kita lakukan hal-hal yang perlu dimintakan maaf dan dimaafkan. Jadi, idul fitri bukanlah penghapus kesalahan yang kita adakan dulu, melainkan berusaha tidak melakukan kesalahan.Tapi namanya juga cakrawala. Kita tak akan pernah sampai ke sana. Kita sekedar mengarahkan diri ke sana. Bukankah bahwa 'manusia itu tempat kesalahan' termasuk sunatullah atau hukum alam? Dan itu bisa kita eksploitir: "Mari korupsi sebanyak-banyaknya," lantas kita bilang: "al insaanu mahallul-khatha' wan-nis-yaaan!" Manusia itu tempat persemayaman kesalahan dan lupa!Asal ingat bahwa malaikat Munkar dan Nakir memiliki aji bajra geni yang amat nggegirisi. Bahkan 'wa man ya'mal mitsqala dzarratin syarran yarah' (barangsipa memperbuat sedebu keburukan, he'll see... kata Allah) bisa berlaku detik ini juga. Demikianlah saya ancam diri saya sendiri.Saya ucapkan Minal 'Aidin Wal Faizin; semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali ke fitrah dan orang-orang yang beruntung. Siapakah yang beruntung? Laa yastawii ash-habun-naari wa ash-habul-jannah, ash-habul-jannati humul-faaizun. Tidak sama sekabat neraka dengan sekabat surga. Sekabat surga ialah orang-orang yang beruntung.Surah apa dan ayat berapa itu ya?//doc. ean
saat buka puasa terakhir
setelah sebulan berpuasa
atau seusai berzakat fitrah
[secangkir kopi untuk idul fitri]
Untuk hari raya, keterlaluan kalau hanya saya suguhkan secangkir kopi seperti biasanya. Mesti saya kasih gelas yang besar, atau silakan ngejog. Kalau ndak nanti saya dirasani. Kalau toh tak dirasani, dan hanya dibatin saja sebagai seorang bakhil, kikir, 'akik yaman,' ya tugas saya untuk ngrasani diri saya sendiri.Idul Fitri juga kita sebut Hari Raya. Semacam Hari Pesta, atau Yaumul Haflah. Memang salah satu fitrah manusia ialah daerah yang hangat dan daging yang ingin gemuk. Kan dietnya sudah sebulan penuh.Fitrah manusia itu dua sisi mata uang: wadag dan ruh. Ingin benda-benda, tapi juga ingin makna. Kalau makna thok 'kan kecut.Tapi kalau benda thok, kaya thok, nanti jadi panjenenganipun kewan. Berhariraya itu gampang. Tapi beridulfitri susah bukan main!
Berhariraya; mencari benda, menikmati benda, pokoknya yang sifatnya memenuhi wadagiyah, itu gampang. Allah menyediakan alam yang kaya raya, tinggal wasyrabu, asal laa tasrifuu. Kalau ada yang miskin apalagi faqir, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, kita memang pilih zuhud, pilih menjadi zahid, acuh beibeh terhadap segala keduniaan. Kedua, ini yang gawat; ada sistem pengaturan kekayaan Allah yang tidak adil. Jadi kalau ada milyaran manusia di bawah garis kemiskinan, bisa dipastikan bahwa para manajer sejarah ini terdiri dari binatang-binatang yang kerasukan syaithanirrajiim.
Lha, yang susah itu beridulfitri. Besok pagi kita akan sibuk minta maaf. Apa saja sih kesalahan kita? Apa saja dosa kita sebagai pribadi, sebagai pejabat, sebagai seniman, sebagai tukang becak, sebagai bagian dari organisasi sosialitas antar manusia? Mungkinkah kita menginventarisir semua itu, untuk kita ajukan dan mohonkan 'grasi' dari segenap manusia yang kita salahi; agar benar-benar kita peroleh idul fitri?Jangan-jangan kita pernah dengki kepada orang lain; apa benar kita akan akui itu dan menjamin lusa tak kita ulangi lagi? Jangan-jangan kita pernah memperbudak orang lain; kita egois, hanya tahu kepentingan kita, hanya ingat kebutuhan kita sendiri. Jangan-jangan kita terbiasa merampok orang, mem-fetakompli orang lain sebagai 'hostes' belaka, sebagai 'tukang pijat' dari klangenan kita, bahkan menjadi lintah yang menghisap, menyerap, menggerogoti tenaga darah kehidupan orang lain. Apa betul itu semua akan kita insyafi demi memperoleh idul fitri?Untunglah orang-orang di sekitar kita terbiasa hidup dengan pola Nabi Isa: "Kalau pipi kananmu ditempeleng, kasih pipi kirimu!" Nanti makin lama orang makin akan memakai model Nabi Muhammad, yang sudah mengevolusi, sudah mengalamai akmaltu lakum dinakum, sudah menyempurna akidah kekhalifahannya.
Kalau pipi kananmu ditempeleng, jangan kasih pipi kirimu, itu namanya nahiy munkar. Pembebasan. Kenapa?Mungkin anda sudah kebal, sehingga tak bergeming oleh serbu tempelengan di pipi anda. Mungkin anda sudah sakti mandraguna. Berkat fatwa-fatwa para ulama mengenai iman, takwa, dan kesabaran, sehingga anda tak pusing oleh pukulan-pukulan. Tapi kalau kita membiarkan pipi kita ditampar hanya karena kita sudah punya kekebalan 'aji lembu sekilan spiritual'; itu namanya show of force, pamer kekuatan. Kita menunjukkan betapa hebatnya ketabahan kita, dan itu tak mustahil mengandung potensi riya atau takabbur.Membiarkan pipi ditempeleng, berarti membiarkan orang menempeleng. Dan kalau kita membiarkan orang lain membuat salah, itu namanya egoistis. Kita terlalu berkonsentrasi untuk menghimpun 'pahala memaafkan' sambil membiarkan orang lain menumpuk 'dosa menempeleng.' Nggak bener dong!Jadi, tindakan memaafkan itu dilandasi oleh tugas untuk quu anfusikum wa ahlikum naara. Lain soal kalau kita sukar memaafkan disebabkan oleh watak pendendam dalam diri kita. Dalam mekanisme psikologisnya, kecendrungan yang biasanya malah justru mendorong orang 'ngintip' kita dari balik pohon, menunggu kita melanggar lalu lintas. Makin banyak kita melanggar, makin punya kesempatan pula me-nahiy munkar kita.Jadi, ia mengkapitalisir dosa-dosa kita demi akumulasi pahal-pahala dia, untuk credit point dan sogokan. Polisi yang baik ialah berjuang sedemikian rupa sehingga kemungkinan kita berbuat salah ditekan serendah mungkin. Bukan malah dijebak dan di 'makan.' Denga kata lain, kita tidak berburu 'pahala memaafkan.
Yang diusahakan oleh setiap muslim ialah keadaan dimana tak lagi perlu memaafkan, karena memang tak ada kesalahan.Nah, kalau persyaratan-persyaratan maknawi dan proses maaf-memafkan itu sudah lumayan dipenuhi, maka kebangetan-lah kita kalau lantas kita masih juga tak mau memaafkan. Lha, wong Tuhan saja punya banyak nama dan sifat memaafkan: Al Afuw, Al Ghafur dan lain-lain.Pernah ada seorang Sufi yang ditempeleng oleh sedadu gara-gara dia menunjuk kuburan, ketika ditanya: "Dimana tempat ramai di sekitar sini?" Tatkala datang seseorang yang menjelaskan bahwa lelaki itu adalah tokoh spiritual penasehat Sang Khalifah, serdadu itu lantas menyemba-nyembah memohon ampun. Sang Sufi berkata: "Aku sudah memaafkanmu sejak sebelum engkau memukulku."Di dalam Al Qur'an, konsep mengenai negeri yang baik (adil makmur) dipaparkan bersamaan (terkait, kontekstual) dengan rabbun ghafur. Tidak baldatun thayyibatun, thok, tapi pakai 'Allah mengampuni' segala. Memang kitab pamungkas itu diturunkan tidak untuk iseng. Coba, apakah kira-kira Allah mengampuni Amerika Serikat yang terus menerus memveto resolusi yang menyangkut kezaliman Israel atas Palestina. Beranikah anda menjamin bahwa Allah memaafkan histeria individualisme, materialisme dan liberalisme di negeri-negeri makmur yang dewasa ini kita makin mabuk menirunya.Tetapi kita memang punya hobi mengeksploitir watak pengampun Allah. Kita tumpuk dosa setinggi-tingginya karena toh Allah Maha Pengampun. Kita terapkan theology of balance, bikin pelanggaran sebanyak-banyaknya dan bikin pahala untuk mengimbanginya. Kita terlalu ber'jualbeli' secara kampungan dengan Allah. Padahal, sekali lagi, tujuan setiap muslim ialah bagaimana mencapai kepribadian yang tak lagi perlu mohon maaf; justru karena memang sudah tak punya kesalahan dan dosa lagi. Juga terhadap sesama manusia kita semoga akan pernah amat sedikit saja butuh saling memaafkan, karena saking sedikitnya kesalahan yang kita bikin. Insya Allah, filsafat permaafan bukanlah alat 'penghapus dosa' (sehingga dosa perlu dibikin dulu), melainkan metode agar kita tak lagi menyelenggarakan dosa.Cakrawala perjalanan muslim ialah keadaan bebas maaf. Keadaan dimana maaf tak diperlukan, karena relatif tak kita lakukan hal-hal yang perlu dimintakan maaf dan dimaafkan. Jadi, idul fitri bukanlah penghapus kesalahan yang kita adakan dulu, melainkan berusaha tidak melakukan kesalahan.Tapi namanya juga cakrawala. Kita tak akan pernah sampai ke sana. Kita sekedar mengarahkan diri ke sana. Bukankah bahwa 'manusia itu tempat kesalahan' termasuk sunatullah atau hukum alam? Dan itu bisa kita eksploitir: "Mari korupsi sebanyak-banyaknya," lantas kita bilang: "al insaanu mahallul-khatha' wan-nis-yaaan!" Manusia itu tempat persemayaman kesalahan dan lupa!Asal ingat bahwa malaikat Munkar dan Nakir memiliki aji bajra geni yang amat nggegirisi. Bahkan 'wa man ya'mal mitsqala dzarratin syarran yarah' (barangsipa memperbuat sedebu keburukan, he'll see... kata Allah) bisa berlaku detik ini juga. Demikianlah saya ancam diri saya sendiri.Saya ucapkan Minal 'Aidin Wal Faizin; semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali ke fitrah dan orang-orang yang beruntung. Siapakah yang beruntung? Laa yastawii ash-habun-naari wa ash-habul-jannah, ash-habul-jannati humul-faaizun. Tidak sama sekabat neraka dengan sekabat surga. Sekabat surga ialah orang-orang yang beruntung.Surah apa dan ayat berapa itu ya?//doc. ean
Selasa, 06 Januari 2009
Syukur, Visi, Aksi
Selasa, 30 Desember 2008
Hukum Alam Semesta
Hukum Alam Semesta
Siapakah "saya"?
Sebuah pertanyaan yang mungkin Anda sedang pikirkan belakangan ini. Sebuah pertanyaan yang sederhana, tapi sangat susah untuk menjawabnya, dalam artian bahwa jawaban itu dapat menjadi jawaban yang pasti dan disetujui oleh semua pihak.
Apakah "saya" itu tubuh atau jiwa atau mind atau spirit? yang manakah?
Yang pasti bahwa "saya" dalam pengertian pada pengembangan diri seutuhnya bukanlah tubuh yang kita tempati sementara ini.
Seperti tertulis dalam halaman depan situs ini, "saya" yang ada saat ini adalah kepribadian atau personality yang terfragmentasi. "Saya" adalah bagian kecil atau fragmen dari Diri kita yang seutuhnya.
"Saya" saat ini menjadi fragmen atau pecahan dari diri kita sendiri.
Diri kita seutuhnya biasanya banyak disebut sebagai THE WHOLE SELF.
Kalau "saya" adalah fragmen kecil dari the whole self atau diri kita yang seutuhnya? Apakah "saya" sedang hidup tanpa sadar?
"Saya" dalam kehidupan ini, akan menjadi lebih terpecah belah lagi melalui pilihan-pilihan kita, pengalaman hidup yang traumatis dan juga penghakiman terhadap diri kita sendiri.
Pengalaman hidup yang traumatis seperti malu, menghakimi, menyangkal, penolakan diri dan rasa bersalah akan membuat "saya" semakin terpecah lagi. Pecahan ini akan ada terus.....
Pertanyaannya apakah kita masih diberikan kesempatan untuk menghubungkan kembali seluruh fragmen dari "saya" yang menghilang selama ini?Atau apakah kita bisa dan mau serta mampu menyusun kembali setiap fragmen yang hilang dari "saya" ?Atau apakah kita bisa dan mau mengekspresikan "saya" yang seutuhnya?Atau apakah kita bisa dan mau membuka topeng yang menutupi "saya" selama ini?
Jawabannya adalah YA....
Karena sebenarnya itulah salah satu tujuan hidup kita sebenarnya...
Sampai saat ini, kebanyakan dari kita belum membuat keputusan untuk menghubungkan dan menemukan "saya " atau diri kita seutuhnya.
Ini dapat terjadi karena mungkin kita belum tahu. Kalaupun sudah, mungkin ada yang belum kita tahu.
Kenapa belum kita tahu?
Karena kita mengalami seluk beluk kehidupan dari perspektif :TIDAK MENGETAHUI....Kita tidak mengenal tentang bagian sadar dari kita sendiri..........
Seharusnya seluruh pengalaman hidup membawa kita pada kesadaran untuk lebih mengetahui "saya" itu sendiri, atau tentang diri kita.Dan pengalaman pada hidup ini, memberikan kita kesempatan untuk sadar dan mengetahui "saya" yang sebenarnya.
Kalau begitu lebih jelas bahwa salah satu tujuan atau misi hidup kita ini adalah secara umum menjalani evolusi jiwa melalui proses pembelajaran dari kehidupan yang saat ini kita jalani dan pada saatnya mendekatkan diri kita kepada yang Maha Kuasa.
Seperti telah dijelaskan secara singkat di Law of Attraction, Hukum Alam Semesta atau Universal Law adalah hukum atau aturan yang berlaku dalam permainan kehidupan.
Apa permainannya?
Permainan kehidupan atau Game of Life adalah :
MEMANIFESTASIKAN DIRI SEUTUHNYA SECARA SEIMBANG.
MEMPEROLEH PENGALAMAN ATAS SEGALA HAL YANG DITAWARKAN OLEH KEHIDUPAN,
TANPA MENGHAKIMI.
Dengan Hukum Alam Semesta ini, kita dapat meningkatkan kondisi fisik, mental , pertumbuhan emosional serta pertumbuhan rohani kita sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing.
Ada beberapa prinsip dasar yang ada pada Hukum Alam Semesta yang perlu diketahui, yaitu:
Keadilan dan Keseimbangan:Hukum Alam semesta memperhatikan dan mengenali tiap-tiap faktor. Dan memastikan bahwa Keadilan dan Keseimbangan telah terjadi.
Aksi-Reaksi:Kita tidak bisa memilih keluar dari Hukum Alam, karena ia beroperasi dengan tak mengindahkan apa yang kita pikir atau lakukan. Cara kerja yang alami terjadi dalam semua lapisan kehidupan dimana setiap tindakan dan aneka pilihan yang kita buat, menghasilkan suatu reaksi dan mengakibatkan satu tindakan sebab-akibat yang tak terpisahkan.
Kuasa:Kita mempunyai kuasa untuk menciptakan damai, kelimpahan, harmois, disharmoni, kekurangan, petaka dll.
Kesadaran kolektif:Pikiran, perasaan, kata dan tindakan2 kita adalah energi. Yang kita pikir, rasa, katakan dan lakukan pada setiap saat kembali pada kita untuk menciptakan kenyataan yang kita alami. Kombinasi pikiran2, perasaan2, kata2, tindakan2 semua orang, menciptakan kesadaran kolektif, dalm hal ini menciptakan dunia yang ada didepan kita.
Pengendalian:Untuk bermain dengan baik, menjadi penting bagi kita untuk belajar memanage pikiran dan emosi. Pemahaman akan Hukum Alam Semesta membantu kita untuk menciptakan hal ini.
Tanggung jawab:Tanpa bantuan siapapun, seseorang menghukum atau menghargai dirinya sendiri atas setiap tindakan yang dilakukan. Setiap orang dapat berkembang atau gagal. Untuk tumbuh atau maju ditentukan oleh tindakannya sendiri.
Positif:Pelanggaran terhadap hukum ini hanya membawa penderitaan. Dan penderitaan akan memberi pelajaran bagi kita untuk hidup dengan cara lebih baik. Dalam konteks hukum ini, secara menyeluruh hasilnya adalah positif.
Nasib:Hukum Alam Semesta menentukan nasib dari tiap individu, seperti halnya kita menetapkan pertumbuhan rohani kita sendiri.
***********************
sumber tulisan: HUKUM UNIVERSAL oleh Richard Claproth PhD
Siapakah "saya"?
Sebuah pertanyaan yang mungkin Anda sedang pikirkan belakangan ini. Sebuah pertanyaan yang sederhana, tapi sangat susah untuk menjawabnya, dalam artian bahwa jawaban itu dapat menjadi jawaban yang pasti dan disetujui oleh semua pihak.
Apakah "saya" itu tubuh atau jiwa atau mind atau spirit? yang manakah?
Yang pasti bahwa "saya" dalam pengertian pada pengembangan diri seutuhnya bukanlah tubuh yang kita tempati sementara ini.
Seperti tertulis dalam halaman depan situs ini, "saya" yang ada saat ini adalah kepribadian atau personality yang terfragmentasi. "Saya" adalah bagian kecil atau fragmen dari Diri kita yang seutuhnya.
"Saya" saat ini menjadi fragmen atau pecahan dari diri kita sendiri.
Diri kita seutuhnya biasanya banyak disebut sebagai THE WHOLE SELF.
Kalau "saya" adalah fragmen kecil dari the whole self atau diri kita yang seutuhnya? Apakah "saya" sedang hidup tanpa sadar?
"Saya" dalam kehidupan ini, akan menjadi lebih terpecah belah lagi melalui pilihan-pilihan kita, pengalaman hidup yang traumatis dan juga penghakiman terhadap diri kita sendiri.
Pengalaman hidup yang traumatis seperti malu, menghakimi, menyangkal, penolakan diri dan rasa bersalah akan membuat "saya" semakin terpecah lagi. Pecahan ini akan ada terus.....
Pertanyaannya apakah kita masih diberikan kesempatan untuk menghubungkan kembali seluruh fragmen dari "saya" yang menghilang selama ini?Atau apakah kita bisa dan mau serta mampu menyusun kembali setiap fragmen yang hilang dari "saya" ?Atau apakah kita bisa dan mau mengekspresikan "saya" yang seutuhnya?Atau apakah kita bisa dan mau membuka topeng yang menutupi "saya" selama ini?
Jawabannya adalah YA....
Karena sebenarnya itulah salah satu tujuan hidup kita sebenarnya...
Sampai saat ini, kebanyakan dari kita belum membuat keputusan untuk menghubungkan dan menemukan "saya " atau diri kita seutuhnya.
Ini dapat terjadi karena mungkin kita belum tahu. Kalaupun sudah, mungkin ada yang belum kita tahu.
Kenapa belum kita tahu?
Karena kita mengalami seluk beluk kehidupan dari perspektif :TIDAK MENGETAHUI....Kita tidak mengenal tentang bagian sadar dari kita sendiri..........
Seharusnya seluruh pengalaman hidup membawa kita pada kesadaran untuk lebih mengetahui "saya" itu sendiri, atau tentang diri kita.Dan pengalaman pada hidup ini, memberikan kita kesempatan untuk sadar dan mengetahui "saya" yang sebenarnya.
Kalau begitu lebih jelas bahwa salah satu tujuan atau misi hidup kita ini adalah secara umum menjalani evolusi jiwa melalui proses pembelajaran dari kehidupan yang saat ini kita jalani dan pada saatnya mendekatkan diri kita kepada yang Maha Kuasa.
Seperti telah dijelaskan secara singkat di Law of Attraction, Hukum Alam Semesta atau Universal Law adalah hukum atau aturan yang berlaku dalam permainan kehidupan.
Apa permainannya?
Permainan kehidupan atau Game of Life adalah :
MEMANIFESTASIKAN DIRI SEUTUHNYA SECARA SEIMBANG.
MEMPEROLEH PENGALAMAN ATAS SEGALA HAL YANG DITAWARKAN OLEH KEHIDUPAN,
TANPA MENGHAKIMI.
Dengan Hukum Alam Semesta ini, kita dapat meningkatkan kondisi fisik, mental , pertumbuhan emosional serta pertumbuhan rohani kita sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing.
Ada beberapa prinsip dasar yang ada pada Hukum Alam Semesta yang perlu diketahui, yaitu:
Keadilan dan Keseimbangan:Hukum Alam semesta memperhatikan dan mengenali tiap-tiap faktor. Dan memastikan bahwa Keadilan dan Keseimbangan telah terjadi.
Aksi-Reaksi:Kita tidak bisa memilih keluar dari Hukum Alam, karena ia beroperasi dengan tak mengindahkan apa yang kita pikir atau lakukan. Cara kerja yang alami terjadi dalam semua lapisan kehidupan dimana setiap tindakan dan aneka pilihan yang kita buat, menghasilkan suatu reaksi dan mengakibatkan satu tindakan sebab-akibat yang tak terpisahkan.
Kuasa:Kita mempunyai kuasa untuk menciptakan damai, kelimpahan, harmois, disharmoni, kekurangan, petaka dll.
Kesadaran kolektif:Pikiran, perasaan, kata dan tindakan2 kita adalah energi. Yang kita pikir, rasa, katakan dan lakukan pada setiap saat kembali pada kita untuk menciptakan kenyataan yang kita alami. Kombinasi pikiran2, perasaan2, kata2, tindakan2 semua orang, menciptakan kesadaran kolektif, dalm hal ini menciptakan dunia yang ada didepan kita.
Pengendalian:Untuk bermain dengan baik, menjadi penting bagi kita untuk belajar memanage pikiran dan emosi. Pemahaman akan Hukum Alam Semesta membantu kita untuk menciptakan hal ini.
Tanggung jawab:Tanpa bantuan siapapun, seseorang menghukum atau menghargai dirinya sendiri atas setiap tindakan yang dilakukan. Setiap orang dapat berkembang atau gagal. Untuk tumbuh atau maju ditentukan oleh tindakannya sendiri.
Positif:Pelanggaran terhadap hukum ini hanya membawa penderitaan. Dan penderitaan akan memberi pelajaran bagi kita untuk hidup dengan cara lebih baik. Dalam konteks hukum ini, secara menyeluruh hasilnya adalah positif.
Nasib:Hukum Alam Semesta menentukan nasib dari tiap individu, seperti halnya kita menetapkan pertumbuhan rohani kita sendiri.
***********************
sumber tulisan: HUKUM UNIVERSAL oleh Richard Claproth PhD
Prinsip sukses Universal "Law of Attraction."
Kalo ngomong sukses, saya selalu tertarik. Maklum, mungkin saya bosen sejak kecil jadi orang susah. Saya sejak kecil bukan terlahir di keluarga orang kaya, namun saya beruntung sudah dilahirkan:-). Melihat orang lain yang kehidupannya kaya, bahkan sangat kaya, menjadi pemicu semangat saya untuk menjadi kaya juga. Beruntungnya saya menemukan hukum ini “Law of Attraction” dalam sebuah buku yang saya baca. ternyata yang membuat orang menjadi miskin atau kaya, adalah pikiran orang itu sendiri, bagaimana cara berpikir. Law of attraction merupakan prinsip sukses yang universal menurut saya. kalo kita sudah mengetahui prinsip-prinsip Sukses, maka usaha menjadi jauh lebih mudah, karena namanya prinsip pasti menjadi dasar bagi semua. Bagaimana prinsip sukses ini bekerja??? Apa itu Law of Attraction??
Law of Attraction menyatakan bahwa “Apa yang anda pikirkan dan fokuskan maka hal itu akan tertarik ke dalam diri anda.”
Hukum ini terjadi secara independen dan tidak peduli digunakan untuk tujuan apapun. Sebagai contoh, orang-orang rakus dan juga perusahaan korporasi besar yang serakah akan terus mendapatkan kekayaannya walaupun aktifitas mereka merugikan orang atau merusak lingkungan misalnya. Ini terjadi karena kelompok ini mempunyai fokus untuk mendapatkan profit, apa pun yang terjadi.
Hukum ini secara jelas memberikan ruang kepada setiap orang untuk mendapatkan apapun yang mereka fokuskan. Maka dari itu, kebanyakan kekayaan dikuasai oleh segelintir orang saja yang hanya fokus pada kekayaan yang lebih besar, kekuasaan yang lebih besar dan kontrol yang lebih besar dan menyingkirkan sisanya, yaitu orang-orang yang tidak fokus.
Menurut Foster, suka atau tidak suka, hukum ini akan tetap ada. Cara untuk mengontrol hukum ini agar hukum ini bekerja untuk keuntungan kita adalah dengan mengidentifikasi dan menghilangkan sebanyak mungkin belief, value dan rule yang bertentangan. Beginilah prinsip sukses ini bekerja.
Orang-orang yang mempunyai pikiran bahwa uang adalah tidak penting, tidak akan mendapatkan kekayaan, karena mereka tidak pernah fokus untuk mendapatkan kekayaan. Jika ands mengalami kerugian dalam bisnis dan merasa sangat menyesal, anda dapat merubah pikiran negatif menjadi positif, merubah pikiran “Saya mengalami kerugian” menjadi “Bagaimana saya mendapatkan profit lagi.” Dengan demikian fokus anda adalah mencari profit dan bukan fokus pada kerugian. Karena yang anda fokuskan , itulah yang akan terjadi. Beginilah prinsip sukses “Law of Attraction” bekerja.
Hukum alam ini secara jelas bekerja sesuai pikiran kita. Bila anda meminta sedikit maka anda akan mendapatkan sedikit pula. Bila anda hanya berpikir untuk mendapatkan penghasilan rata-rata, itulah yang akan anda dapatkan. Bila anda ingin kekayaan melimpah, fokuskanlah pikiran anda akan profit dan kekayaan melimpah. Beginilah prinsip sukses hukum ini bekerja.
Jadi kontrollah pikiran anda sehingga profit dan kekayaan dapat mengalir ke diri anda tanpa dihalangi oleh pikiran anda sendiri. Thats the Law of Attraction works.
Inilah prinsip sukses universal yang bisa mengubah kehidupan semua orang yang yakin dan percaya akan potensi dirinya dan dukungan dari alam semesta dan Tuhan.
“Your Wish is My Command” seperti kata Jin Aladin.. Prinsip sukses bekerja pada saat anda membaca blog ini kalau anda yakin.
Law of Attraction menyatakan bahwa “Apa yang anda pikirkan dan fokuskan maka hal itu akan tertarik ke dalam diri anda.”
Hukum ini terjadi secara independen dan tidak peduli digunakan untuk tujuan apapun. Sebagai contoh, orang-orang rakus dan juga perusahaan korporasi besar yang serakah akan terus mendapatkan kekayaannya walaupun aktifitas mereka merugikan orang atau merusak lingkungan misalnya. Ini terjadi karena kelompok ini mempunyai fokus untuk mendapatkan profit, apa pun yang terjadi.
Hukum ini secara jelas memberikan ruang kepada setiap orang untuk mendapatkan apapun yang mereka fokuskan. Maka dari itu, kebanyakan kekayaan dikuasai oleh segelintir orang saja yang hanya fokus pada kekayaan yang lebih besar, kekuasaan yang lebih besar dan kontrol yang lebih besar dan menyingkirkan sisanya, yaitu orang-orang yang tidak fokus.
Menurut Foster, suka atau tidak suka, hukum ini akan tetap ada. Cara untuk mengontrol hukum ini agar hukum ini bekerja untuk keuntungan kita adalah dengan mengidentifikasi dan menghilangkan sebanyak mungkin belief, value dan rule yang bertentangan. Beginilah prinsip sukses ini bekerja.
Orang-orang yang mempunyai pikiran bahwa uang adalah tidak penting, tidak akan mendapatkan kekayaan, karena mereka tidak pernah fokus untuk mendapatkan kekayaan. Jika ands mengalami kerugian dalam bisnis dan merasa sangat menyesal, anda dapat merubah pikiran negatif menjadi positif, merubah pikiran “Saya mengalami kerugian” menjadi “Bagaimana saya mendapatkan profit lagi.” Dengan demikian fokus anda adalah mencari profit dan bukan fokus pada kerugian. Karena yang anda fokuskan , itulah yang akan terjadi. Beginilah prinsip sukses “Law of Attraction” bekerja.
Hukum alam ini secara jelas bekerja sesuai pikiran kita. Bila anda meminta sedikit maka anda akan mendapatkan sedikit pula. Bila anda hanya berpikir untuk mendapatkan penghasilan rata-rata, itulah yang akan anda dapatkan. Bila anda ingin kekayaan melimpah, fokuskanlah pikiran anda akan profit dan kekayaan melimpah. Beginilah prinsip sukses hukum ini bekerja.
Jadi kontrollah pikiran anda sehingga profit dan kekayaan dapat mengalir ke diri anda tanpa dihalangi oleh pikiran anda sendiri. Thats the Law of Attraction works.
Inilah prinsip sukses universal yang bisa mengubah kehidupan semua orang yang yakin dan percaya akan potensi dirinya dan dukungan dari alam semesta dan Tuhan.
“Your Wish is My Command” seperti kata Jin Aladin.. Prinsip sukses bekerja pada saat anda membaca blog ini kalau anda yakin.
MatheMAGIC
0 x 9 + 0 = 0
1 x 9 + 1 = 10
12 x 9 + 2 = 110
123 x 9 + 3 = 1110
1234 x 9 + 4 = 11110
12345 x 9 + 5 = 111110
123456 x 9 + 6 = 1111110
1234567 x 9 + 7 = 11111110
12345678 x 9 + 8 = 111111110
123456789 x 9 + 9 = 1111111110
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321
Another Magic of Math
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321
Then... Check this out ...
1 x 18 + 1 = 19
12 x 18 + 2 = 218
123 x 18 + 3 = 2217
1234 x 18 + 4 = 22216
12345 x 18 + 5 = 222215
123456 x 18 + 6 = 2222214
1234567 x 18 + 7 = 22222213
12345678 x 18 + 8 = 222222212
123456789 x 18 + 9 = 2222222211
Try this....
123456789 + 987654321 = 1111111110
1 x 142857 = 142857 (angka sama)
2 x 142857 = 285714 (angka sama beda urutan )
3 x 142857 = 428571 (angka sama beda ururan)
4 x 142857 = 571428 (angka sama beda urutan )
5 x 142857 = 714285 (angka sama beda urutan)
6 x 142857 = 857142 (angka sama beda urutan)
7 x 142857 = 999999 ( waw......suatu hasil yangFantastis )
ada lagi lho.......udah tau belum?bilangan sembarang jika dikalikan 9 maka jumlahhasilnya = 9 kita, buktikan.....!
1 x 9 = 9
2 x 9 = 18, jumlah 1 + 8 = 9
3 x 9 = 27, jumlah 2 + 7 = 9
4 x 9 = 36, jumlah 3 + 6 = 9
dst. sampai tak terhingga .....Ok khan ...
ada lagi....
22 x 9 = 198, .....cara cepatnya 2 x 9 = 18, lalu selipkan angka 9 ditengah, jadi 198....ok
buktikan sendiri cara cepatnya berikut ini...
33 x 9 = 297, cara cepat 3 x 9, selipkan 9 ditengah
44 x 9 = 396
55 x 9 = 495
66 x 9 = 594
77 x 9 = 693
88 x 9 = 792
99 x 9 = 891
lalu bagaimana dengan 3 angka kembar yach ....???sama aja tuch tinggal selipkan 99 ditengahnya ....gak percaya ....kita buktikan yach...
222 x 9 = 1998, cara cepat 2 x 9= 18, selipkan 99ditengah
333 x 9 = 2997
444 x 9 = 3996
555 x 9 = 4995
dst.......Silahkan Mencoba Sendiri
1 x 9 + 1 = 10
12 x 9 + 2 = 110
123 x 9 + 3 = 1110
1234 x 9 + 4 = 11110
12345 x 9 + 5 = 111110
123456 x 9 + 6 = 1111110
1234567 x 9 + 7 = 11111110
12345678 x 9 + 8 = 111111110
123456789 x 9 + 9 = 1111111110
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321
Another Magic of Math
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321
Then... Check this out ...
1 x 18 + 1 = 19
12 x 18 + 2 = 218
123 x 18 + 3 = 2217
1234 x 18 + 4 = 22216
12345 x 18 + 5 = 222215
123456 x 18 + 6 = 2222214
1234567 x 18 + 7 = 22222213
12345678 x 18 + 8 = 222222212
123456789 x 18 + 9 = 2222222211
Try this....
123456789 + 987654321 = 1111111110
1 x 142857 = 142857 (angka sama)
2 x 142857 = 285714 (angka sama beda urutan )
3 x 142857 = 428571 (angka sama beda ururan)
4 x 142857 = 571428 (angka sama beda urutan )
5 x 142857 = 714285 (angka sama beda urutan)
6 x 142857 = 857142 (angka sama beda urutan)
7 x 142857 = 999999 ( waw......suatu hasil yangFantastis )
ada lagi lho.......udah tau belum?bilangan sembarang jika dikalikan 9 maka jumlahhasilnya = 9 kita, buktikan.....!
1 x 9 = 9
2 x 9 = 18, jumlah 1 + 8 = 9
3 x 9 = 27, jumlah 2 + 7 = 9
4 x 9 = 36, jumlah 3 + 6 = 9
dst. sampai tak terhingga .....Ok khan ...
ada lagi....
22 x 9 = 198, .....cara cepatnya 2 x 9 = 18, lalu selipkan angka 9 ditengah, jadi 198....ok
buktikan sendiri cara cepatnya berikut ini...
33 x 9 = 297, cara cepat 3 x 9, selipkan 9 ditengah
44 x 9 = 396
55 x 9 = 495
66 x 9 = 594
77 x 9 = 693
88 x 9 = 792
99 x 9 = 891
lalu bagaimana dengan 3 angka kembar yach ....???sama aja tuch tinggal selipkan 99 ditengahnya ....gak percaya ....kita buktikan yach...
222 x 9 = 1998, cara cepat 2 x 9= 18, selipkan 99ditengah
333 x 9 = 2997
444 x 9 = 3996
555 x 9 = 4995
dst.......Silahkan Mencoba Sendiri
Ketika Allah berkata : "Tidak".
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah ambillah kesombonganku dariku."
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat."
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kesabaran."
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kebahagiaan."
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan."
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat."
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti!!"
Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini.
Allah mengabulkan permintaan kita, justru karena Allah tahu yang terbaik, yang kita tidak tahu.
Diambil dari Milis "lightuponlight"
Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat."
Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kesabaran."
Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kebahagiaan."
Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan."
Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat."
Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal."
Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cinta-Mu padaku.
Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti!!"
Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini.
Allah mengabulkan permintaan kita, justru karena Allah tahu yang terbaik, yang kita tidak tahu.
Diambil dari Milis "lightuponlight"
Langganan:
Postingan (Atom)

